Ya, apa yang kan mampu melenyapkan semua kenangan tentangmu. Aku sangat berharap Tuhan tak kan pernah menghapus semua memori itu. Sungguh, aku tak ingin melupakan semua yang pernah kita lalui bersama. Dalam senang dan haru, dalam sakit dan pedih, semua terlalu berharga untuk dilepaskan dari benakku. Hanya itu yang tersisa, yang dapat kumiliki saat ini. Kenangan tentang dirimu, kebersamaan yang pernah kita rengkuh berdua. Ah, tak pernah terbayangkan sebelumnya semua itu tak kan pernah kembali.
Tahukah kau, setiap kali melihat mereka, teman-teman kita, ada yang terasa mengiris di hati. Aku berharap masih dapat menjumpaimu diantara keberadaan mereka. Keinginan yang tak kan pernah terwujud.
Begitulah hidup.. ada dan tiada, datang dan pergi. Tak seorang pun yang kan tahu apa yang akan terjadi. Sama halnya saat pertama kali menjatuhkan pandangan padamu. Entah kenapa tiba-tiba hati tergetar. Ada sesuatu pada dirimu yang membuatku tergugu. Dengan sederhana kau sentuh kalbuku, tumbuhkan bulir-bulir kasih yang kian hari kian merekah. Seperti flamboyan yang tersenyum di musim hujan, mekar dengan indahnya.
Terlebih saat kau sambut untaian rasa yang terpendam lama, semua buncah laksana letusan gunung api yang memerahkan langit. Mungkin kau akan tertawa, betapa pada hari kau mengungkapkan rasamu, seketika aku bertingkah seperti seorang gadis kecil yang dihadiahi boneka barbie baru. Berteriak kegirangan, melompat-lompat di depan cermin di sudut kamarku, tentu saja tanpa seorang pun yang tahu.
Hari-hari bersamamu membuatku mengerti bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Merasakan bahagia, sedih, rindu, marah, benci dan cemburu. Persis seperti alur drama yang sering diputar di layar kaca. Ya, aku melalui semua itu sepenuh hati, sekalipun terkadang aku harus menangis karenamu. Aku tak akan pernah menyesal karena aku jatuh cinta kepadamu. Pada kelebihan yang kau miliki, pun pada kekurangan yang ada padamu. Tanpa kau sadari kau ibarat candu bagiku. Layaknya candu yang membumbung dalam asap kretek yang dulu kau hisap setiap hari.
Masih ingatkah kamu, betapa dulu kita sering sehati, seperti kala itu saat aku sedang menonton serial tv "Ally Mc Beal" dan teringat kamu, tiba-tiba kamu menghubungiku, hanya untuk mengatakan kau juga teringat aku karena menonton film yang sama. Hal kecil seperti itu saja sudah membuat aku bahagia sekali. Benar adanya, insting itu muncul karena ada keterikatan batin diantara kita.
Ketika waktu mulai tak berpihak pada kita, memisahkan kita dalam jarak tak berbatas, kita mencoba untuk bertahan, saling meyakinkan dan saling percaya. Hanya mampu menjumpai suara dan tulisan-tulisanmu, berteman sejuta harapan, rasa lelah dan apatis yang kian hari kian menggunung. Begitu panjang waktu terasa, ku rapuh, namun kau selalu kuatkan aku.
Lalu semua perlahan berubah, dalam gumul waktu yang terus berputar kau terasa kian jauh, tiada lagi kata yang menguatkan aku, tiada lagi suara yang menyejukkan hati. Aku merasa kehilangan nahkoda, terperangkap di tengah lautan maha luas. Aku berjuang mencari sejuta tanya, menunggu, terus menunggu.
Sampai suatu waktu kau kembali datang, dengan parasmu yang lain. Tak lagi cerah seperti sedianya dirimu. Begitu dingin, beku dalam diammu. Ketika aku luapkan tanya yang lama kupendam tentang bagaimana kelanjutan kita, kau berkata masih ingin tetap bersamaku. Hanya saja semua tak akan lagi sama, karena kau bukan lagi kau yang dulu. Ada sesuatu yang melumpuhkan ragamu. Sesuatu yang menggerogoti tubuhmu, membuatmu melemah. Makhluk jahat yang terus merambati tubuhmu.
Tahukah kau, kesaksianmu itu meruntuhkan hati. Betapa inginku merengkuhmu, meredakan perih yang kau perangi sendiri. Tapi aku tak berdaya, ribuan kilo yang memisahkan kita, sebuah dinding besar yang tak mampu kutembus. Aku hanya mampu menghiburmu. Berharap semua akan baik-baik saja. Kau pasti akan sembuh sayang..
Masih membekas diingatan, pada satu senja saat aku menatap langit yang memerah. Ada perasaan yang tak ku mengerti. Tiba-tiba hati merasa kosong, aku tak pernah menduga ternyata itulah pertanda. Keesokan harinya, seusai bersujud dalam subuh yang dingin, aku menerima sebuah kabar dari ibumu. Berita yang begitu menyentak, sekujur tubuhku membatu, aliran darah terhenti di puncak ubun. Kau telah berpulang, sang Izrail telah menjemputmu menjelang takbir Jum'at. Aku kehilangan kata, hanya mampu mengucap salam dan menutup pembicaraan. Aku bersimpuh dan terpaku di sudut kamar, merasakan seluruh persendian luruh seakan lumpuh. Lalu perlahan butiran bening mengalir deras dari kedua sudut mataku. Hanya Tuhan yang tahu betapa hancurnya aku kala itu. Aku seolah berada di tempat yang tak ku kenali. Rasa yang tak sanggup kulukiskan dengan kalimat apapun.
Mimpikah ini, berharap Tuhan akan membangunkan aku. Tapi sekuat apapun aku menafikannya, semua tak akan berubah. Ini benar-benar terjadi, kenyataan yang harus aku terima dan hadapi. Inilah Keputusan Rabb yang telah tertulis di daun Sidrat Al Muntaha.
Hari-hari setelah kau pergi adalah masa terberat dalam hidupku. Aku berjuang meredakan hati yang derak dan berserak. Menerima kenyataan ini dengan ikhlas bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui. Namun aku sangat bersyukur, disaat berat seperti itu aku tak pernah merasa sendiri. Allah selalu bersamaku, satu keyakinan yang selalu terpatri di hati. Keyakinan yang membuatku perlahan kuat. Keyakinan yang membuatku percaya bahwa kepergianmu adalah kehendak-Nya, karena cinta-Nya padamu. Aku percaya kau akan tenang disisi sang Khalik.
Awal Januari 2008, adalah masa yang tak kan terlupakan, saat itu satu harapan yang kutunggu terwujud sudah. Akhirnya aku dapat menjumpai tempat peristirahatan terakhirmu. Setelah lelah mencarimu di deretan nisan yang memenuhi tempat itu, aku terhenti pada satu makam. Diatasnya jelas tertera namamu, bertuliskan tinta emas diatas sebuah marmer putih. Aku hanya mampu terdiam. Setitik air mata pun tak sanggup lagi kuteteskan. Semua lebur dalam hati, penantian selama ini bermuara pada hari itu. Hanya kalbu yang mampu berbicara, "Sayang, aku datang. Aku menepati janjiku untuk menjumpaimu. Tidurlah dengan tenang dalam istirahatmu yang panjang. Our "Dinda" will last forever....."












