05 Juni 2012

Kau dan jejakmu yang tertinggal..

Ada satu masa saat aku berjumpa dan mengenalmu.  Tiada kata yang kan dapat terucap untuk melukiskan betapa berwarnanya hari-hari karenamu. Mata yang begitu menenangkan, senyum yang selalu menggetarkan kalbu. Tawa renyah yang membungakan hati. Semua masih terekam jelas dalam ingatan.
 Ya, apa yang kan mampu melenyapkan semua kenangan tentangmu. Aku sangat berharap Tuhan tak kan pernah menghapus semua memori itu. Sungguh, aku tak ingin melupakan semua yang pernah kita lalui bersama. Dalam senang dan haru, dalam sakit dan pedih, semua terlalu berharga untuk dilepaskan dari benakku. Hanya itu yang tersisa, yang dapat kumiliki saat ini. Kenangan tentang dirimu, kebersamaan yang pernah kita rengkuh berdua. Ah, tak pernah terbayangkan sebelumnya semua itu tak kan pernah kembali.

Tahukah kau, setiap kali melihat mereka, teman-teman kita, ada yang terasa mengiris di hati. Aku berharap masih dapat menjumpaimu diantara keberadaan mereka. Keinginan yang tak kan pernah terwujud.

Begitulah hidup.. ada dan tiada, datang dan pergi. Tak seorang pun yang kan tahu apa yang akan terjadi. Sama halnya saat pertama kali menjatuhkan pandangan padamu. Entah kenapa tiba-tiba hati tergetar. Ada sesuatu pada dirimu yang membuatku tergugu. Dengan sederhana kau sentuh kalbuku, tumbuhkan bulir-bulir kasih yang kian hari kian merekah. Seperti flamboyan yang tersenyum di musim hujan, mekar dengan indahnya. 

Terlebih saat kau sambut untaian rasa yang terpendam lama, semua buncah laksana letusan gunung api yang memerahkan langit. Mungkin kau akan tertawa, betapa pada hari kau mengungkapkan rasamu, seketika aku bertingkah seperti seorang gadis kecil yang dihadiahi  boneka barbie baru. Berteriak kegirangan, melompat-lompat di depan cermin di sudut kamarku, tentu saja tanpa seorang pun yang tahu.

Hari-hari bersamamu membuatku mengerti bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Merasakan bahagia, sedih, rindu, marah, benci dan cemburu. Persis seperti alur drama yang sering diputar di layar kaca. Ya, aku melalui semua itu sepenuh hati, sekalipun terkadang aku harus menangis karenamu. Aku tak akan pernah menyesal karena aku jatuh cinta kepadamu. Pada kelebihan yang kau miliki, pun pada kekurangan yang ada padamu. Tanpa kau sadari kau ibarat candu bagiku. Layaknya candu yang membumbung dalam asap kretek yang dulu kau hisap setiap hari.

Masih ingatkah kamu, betapa dulu kita sering sehati, seperti kala itu saat aku sedang menonton serial tv "Ally Mc Beal" dan teringat kamu, tiba-tiba kamu menghubungiku, hanya untuk mengatakan kau juga teringat aku karena menonton film yang sama. Hal kecil seperti itu saja sudah membuat aku bahagia sekali. Benar adanya, insting itu muncul karena ada keterikatan batin diantara kita.

Ketika waktu mulai tak berpihak pada kita, memisahkan kita dalam jarak tak berbatas, kita mencoba untuk bertahan, saling meyakinkan dan saling percaya. Hanya mampu menjumpai suara dan tulisan-tulisanmu, berteman sejuta harapan, rasa lelah dan apatis yang kian hari kian menggunung. Begitu panjang waktu terasa, ku rapuh, namun kau selalu kuatkan aku.

Lalu semua perlahan berubah, dalam gumul waktu yang terus berputar kau terasa kian jauh, tiada lagi kata yang menguatkan aku, tiada lagi suara yang menyejukkan hati. Aku merasa kehilangan nahkoda, terperangkap di tengah lautan maha luas. Aku berjuang mencari sejuta tanya, menunggu, terus menunggu. 

Sampai suatu waktu kau kembali datang, dengan parasmu yang lain. Tak lagi cerah seperti sedianya dirimu. Begitu dingin, beku dalam diammu. Ketika aku luapkan tanya yang lama kupendam tentang bagaimana kelanjutan kita,  kau berkata masih ingin tetap bersamaku. Hanya saja semua tak akan lagi sama, karena kau  bukan lagi kau yang dulu. Ada sesuatu yang melumpuhkan ragamu. Sesuatu yang menggerogoti tubuhmu, membuatmu melemah. Makhluk jahat yang terus merambati tubuhmu. 

Tahukah kau, kesaksianmu itu meruntuhkan hati. Betapa inginku merengkuhmu, meredakan perih yang kau perangi sendiri. Tapi aku tak berdaya, ribuan kilo yang memisahkan kita, sebuah dinding besar yang tak mampu kutembus. Aku hanya mampu menghiburmu. Berharap semua akan baik-baik saja. Kau pasti akan sembuh sayang..

Masih membekas diingatan, pada satu senja saat aku menatap langit yang memerah. Ada perasaan yang tak ku mengerti. Tiba-tiba hati merasa kosong, aku tak pernah menduga ternyata itulah pertanda. Keesokan harinya, seusai bersujud dalam subuh yang dingin, aku menerima sebuah kabar dari ibumu. Berita yang begitu menyentak, sekujur tubuhku membatu, aliran darah terhenti di puncak ubun. Kau telah berpulang, sang Izrail telah menjemputmu menjelang takbir Jum'at. Aku kehilangan kata, hanya mampu mengucap salam dan menutup pembicaraan. Aku bersimpuh dan terpaku di sudut kamar, merasakan seluruh persendian luruh seakan lumpuh. Lalu perlahan butiran bening mengalir deras dari kedua sudut mataku. Hanya Tuhan yang tahu betapa hancurnya aku kala itu. Aku seolah berada di tempat yang tak ku kenali. Rasa yang tak sanggup kulukiskan dengan kalimat apapun. 

Mimpikah ini, berharap Tuhan akan membangunkan aku. Tapi sekuat apapun aku menafikannya, semua tak akan berubah. Ini benar-benar terjadi, kenyataan yang harus aku terima dan hadapi. Inilah Keputusan Rabb yang telah tertulis di daun Sidrat Al Muntaha.

Hari-hari setelah kau pergi adalah masa terberat dalam hidupku. Aku berjuang meredakan hati yang derak dan berserak. Menerima kenyataan ini dengan ikhlas bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui. Namun aku sangat bersyukur, disaat berat seperti itu aku tak pernah merasa sendiri. Allah selalu bersamaku, satu keyakinan yang selalu terpatri di hati. Keyakinan yang membuatku perlahan kuat. Keyakinan yang membuatku percaya bahwa kepergianmu adalah kehendak-Nya, karena cinta-Nya padamu. Aku percaya kau akan tenang disisi sang Khalik. 


Awal Januari 2008, adalah masa yang tak kan terlupakan, saat itu satu harapan yang kutunggu terwujud sudah. Akhirnya aku dapat menjumpai tempat peristirahatan terakhirmu. Setelah lelah mencarimu di deretan nisan yang memenuhi tempat itu, aku  terhenti pada satu makam. Diatasnya jelas tertera namamu, bertuliskan tinta emas diatas sebuah marmer putih. Aku hanya mampu terdiam. Setitik air mata pun tak sanggup lagi kuteteskan. Semua lebur dalam hati, penantian selama ini bermuara pada hari itu. Hanya kalbu yang mampu berbicara, "Sayang, aku datang. Aku menepati janjiku untuk menjumpaimu. Tidurlah dengan tenang dalam istirahatmu yang panjang. Our "Dinda" will last forever....."


23 Februari 2012

E.G.O.

Aku mencium bara direlungmu.
Sekalipun bisu, aku membaca isyarat itu.
Kau kira tenangku seperti air danau.
Mungkin kau lupa riaknya sesekali tetap akan bergelombang oleh angin.
Luapkan saja yang kau rasa.
Sedikitpun ku tak kan mengelak,
karena ku tahu tempatku berpijak.
Aku tak selamanya malaikat,
sepasang tanduk di kepala bisa jadi bertahta saat terusik.
Dua sisi jiwa ibarat surga dan neraka.
Silahkan mengujiku, 
aku tak kan selemah kerak nasi yang tersiram air panas.
Aku bisa menjadi badai sekaligus pelangi bagimu.
Kau boleh pilih yang kau mau.
Aku memberi jeda sebanyak yang kau butuh.
Sedikitpun tak kan bergeming untuk menyela.
Aku tahu pada waktunya kau akan lelah dan kalah.
Sandingkan aku dengan seribu koloni yang kau anggap kawan.
Kau akan tahu wujudku yang sesungguhnya.
Kau tak kan pernah bisa lepas dari aku.. 

27 Januari 2012

TAK ADA YANG ABADI



Barusan Saya mendengar sebuah lagu, judulnya "Aku bisa mati". Inti lagunya menceritakan kisah seseorang yang merasa tidak sanggup menjalani hidup tanpa kehadiran orang yang dikasihinya, bahkan ia yakin hidupnya seolah akan berakhir jika ditakdirkan berpisah dengan orang tersebut. Yang terpikir dibenak Saya, begitu apatiskah cara berpikir seseorang sampai dia merasa hidupnya sangat bergantung pada orang lain. Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan pemikiran seperti itu, tapi menurut Saya terlalu naif mengganggap seseorang segala-galanya dalam kehidupan kita. Tidak ada salahnya untuk mencintai seseorang, tapi jangan sampai cinta yang kita miliki bisa membutakan hati dan pikiran. Bukankah sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Saya tidak mau munafik, Saya juga pernah merasa kehilangan atas kepergian orang-orang yang Saya cintai. Sangat sedih memang, tapi Saya percaya itu semua kehendak Tuhan, karena tak ada satu pun yang abadi di muka bumi ini. Sesuatu yang kita miliki saat ini tidak akan bisa dimiliki selamanya. Kita harus siap untuk kehilangan apa kita miliki dan sayangi suatu saat nanti. Jikalau masa itu datang, nikmati saja segala kesedihan dan kepedihan yang terasa. Berusahalah untuk ikhlas. Biarkan waktu yang akan menyembuhkan segala luka, karena begitulah kehidupan di dunia. Semua semu, tak ada yang abadi.

21 Januari 2012

A Journey To Tano Batak

Kejadiannya udah lumayan lama, sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi kayaknya sayang aja kalo dilupain. Ga kepikiran kalo gw bakal bisa pergi kesana, sama temen-temen sekantor pula. Yang jelas waktu itu emang seru banget. Awalnya sempet ragu mau pergi atau ga, soalnya gw udah lama banget ga berpergian jauh naik bus. Takut mabuk darat euy... Tapi ternyata ga se-ekstrim yang gw pikir ya.. karena alhamdulillah selama perjalanan gw sama sekali ga mabuk. Mungkin karena kebawa hati seneng ya, sepanjang perjalanan having fun aja, ketawa2 dan lucu2an.
Persinggahan pertama @ Bukit Tinggi. Makan-makan dulu..




Si Oche lagi tidur, fitri malah senyum2
Banyak kejadian lucu sih mulai dari yang pose tidurnya ancur, jatuh dari kursi sampe banyak yang tumbang jadi korban keganasan laju bus alias muntah-muntah. Ajaibnya, semua para cowok. Kalo mereka sih ngelesnya karena duduk di bangku belakang. Makanya wajar kalo sampe mabuk darat gitu. Aih...bener-bener deh. However ga salah dong kalo kita-kita yang cewek merasa bangga sebagai wanita tangguh karena ga satu pun dari kami yang teler. Hehe..
Wajah-wajah lelah sang pejantan yang tak tangguh.. :p
Gw excited banget ketika melewati daerah Pematang Siantar. Itu adalah daerah kelahiran Bokap. Udah lama banget ga pernah pulang kampung. Terakhir kali, gw masih kecil, bahkan belum sekolah. Sayangnya kami sampai disana udah malam. Jadinya ga terlalu menikmati suasana Kotanya. Sepanjang perjalanan gw emang dipandu Bokap lewat sms. Waktu gw bilang udah nyampe Siantar, Bokap jelasin daerah-daerah yang bakal dilalui menuju Kota Medan. Termasuk daerah Kampung Gunung tempat tinggal Opung. Tapi tetap aja gw ga ngerti, entah dimanalah itu. Haha... Sewaktu di Siantar kami emang sempat mampir untuk makan di sebuah rumah makan di Kota itu. Rumah makan "Famili Saiyo". Ternyata sejauh apapun berjalan tapi tetap nyari masakan minang. Ga ada tandingannya sih...  Lidahnya ga bisa pindah ke lain masakan....:)


Berasa masih di Padang :)


Yiha.... akhirnya sampai di Kota Medan. Udah dini hari, sekitar jam 2-an.Kami bermalam di rumah sodara bang Fera.Nyampe disana bukannya langsung istirahat, tapi temen-temen kantor gw masih sempat2nya berkaraoke.... Hadeh... Bener-bener..
Guess what.... jauh-jauh ke Medan tetep aja nongkrongnya di Mall.  Shoping-shoping....Hahaha...
Berdua Fitri







Yang paling berkesan buat gw adalah perjalanan menuju Pulau Samosir. Saat diatas kapal ada perasaan gimanaaa... gitu. Rasanya damai banget berada diatas hamparan air. Suasananya, pemandangannya.. I love it...^^
Kapal yang membawa kami menyeberangi danau Toba








Warga satu kantor







Begitu sampai di Pulau Samosir. Langsung berkelana menjelajahi tempat jajanan souvenir. Liat aja tuh tentengan plastiknya. Maklum deh....ga lengkap rasanya kalo bepergian ga bawa buah tangan buat orang rumah. Ada kejadian lucu waktu itu, pas gw lagi nawar-nawar barang ke seorang wanita penjual, gw nanya gini "Ito, ini berapa harganya". Dia malah senyum dan bilang " Manggilnya bukan ito tapi eda. Ito itu panggilan buat laki-laki". Waduh gw langsung tengsin. Kalo dia tahu gw ada turunan batak pasti gw bakal tambah malu. Apalagi kalo bokap tahu, bakal ditatar gw. Orang batak ga ngerti batak Hihihi... Maklum darahnya bataknya setengah sih..


Liat aja tuh, ada aja kerjaannya. Duduk di emperan toko belagak kayak peminta-minta... ck..ck..ck..
Nongkrong apa ngemis tu ya....

Oh iya gw sempet mejeng nih di depan rumah adat batak. Rumahnya lucu, abis pintu depannya kecil banget. Mesti nunduk dulu baru bisa masuk. Rasanya gw pernah denger cerita kalo pintunya dibikin kecil gitu buat mencegah pengaruh jahat masuk ke dalam rumah. Bener ga ya...



Kira-kira beginilah rupa pulau Samosir yang digambar diatas peta. Keren ya bisa ada pulau di dalam pulau. Kalo menurut gw ini adalah salah satu keajaiban dunia. What a magnificent thing... Semakin takjub atas keagungan Tuhan..
Melihat foto-foto diatas membuat gw kangen masa-masa itu. Kapan ya bisa jalan-jalan kesana lagi. Masih banyak tempat yang belum dikunjungi. Apalagi kata bokap di pulau Samosir ada tempat khusus pemakaman keluarga. Uniknya lagi kuburannya dibuat kayak rumah gitu. Wah makin penasaran, soalnya waktu opung meninggal  dan dimakamkan disana beberapa tahun yang lalu gw ga ikut pergi, jadi ga tau deh gimana bentuk kuburannya. Ya cuma bisa berharap mudah-mudahan next time bisa mengunjungi danau Toba dan pulau Samosir lagi. Just waiting for me ya.....^^




03 Januari 2012

PATIENCE

Ini bukan judul lagu Guns n Roses. Ini yang gue rasain saat ini. Wanna be more patience... Hadeh gue ngerasa aneh this couple days.. Moodnya sensi sekali. Just blame it for my periode. Naif sekali menyalahkan PMS, tapi bisa jadi si moody ini dipengaruhi hormon yang lagi labil. Bukannya ga mau ngendaliin perasaan, kadang spontan aja hal sepele jadi big problem.Bagi kebanyakan cewek pasti ngertilah gimana rasanya. Bukannya sok melankolis dramatis tapi begitulah adanya. Tiba-tiba bisa ngambil sikap rada ekstrim saat zona amannya terganggu oleh dunia luar. Aih gue merasa seperti binatang buas.. :D sungguh kontras kan, masih bisa menertawakan diri sendiri. Ya sudahlah... nikmati saja rasa ini. Soon or later bakal balik normal lagi...

My Blog List

Snag a button