Aku mencium bara direlungmu.
Sekalipun bisu, aku membaca isyarat itu.
Kau kira tenangku seperti air danau.
Mungkin kau lupa riaknya sesekali tetap akan bergelombang oleh angin.
Luapkan saja yang kau rasa.
Sedikitpun ku tak kan mengelak,
karena ku tahu tempatku berpijak.
Aku tak selamanya malaikat,
sepasang tanduk di kepala bisa jadi bertahta saat terusik.
Dua sisi jiwa ibarat surga dan neraka.
Silahkan mengujiku,
aku tak kan selemah kerak nasi yang tersiram air panas.
Aku bisa menjadi badai sekaligus pelangi bagimu.
Kau boleh pilih yang kau mau.
Aku memberi jeda sebanyak yang kau butuh.
Sedikitpun tak kan bergeming untuk menyela.
Aku tahu pada waktunya kau akan lelah dan kalah.
Sandingkan aku dengan seribu koloni yang kau anggap kawan.
Kau akan tahu wujudku yang sesungguhnya.
Kau tak kan pernah bisa lepas dari aku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar