moryn's blog
31 Maret 2016
NEW GUEST
"Knock.. Knock.."
"Who's there?"
"It's me.."
"Oh.. You're trapped on the stone heart"
"Yeah.. Can you help me out of here.. It's been to long and I'm so tired.."
"Hm.. Me too. Why don't you try to invite me inside yours.."
It's a hard thing for me"
"Why?"
"Because I'm not sure what you feel inside. Why don't you show me yours.."
"I'm waiting.."
"Waiting for what? Please don't make me confuse. Just help me"
"How?"
"I just wanna you to flatter my heart with affection. The heart will be unlocked naturally. That's all you have to do. And I'm sure your heart will be melt too.. So, Would you?"
Satu bintang baru datang membawa cahaya.
Satu bintang baru menawarkan mimpi.
Lalu mengapa tiada gemuruh dalam hati.
Mungkinkah asa sepenuhnya tempias bersama kabut malam.
Terbawa sinar bintang yang slama ini menyinari,
bintang yang bersinar dalam senyap..
Satu bintang baru melesat dari langit.
Haruskah tengadahkan tangan menyambut hadirnya,
sedangkan segenap jiwa telah terpatri pada satu bintang,
yang tak kan pernah turun dari langit..
Satu bintang baru menyapa nurani.
Lalu mengapa setiap hela nafas hanya memanggil satu nama,
bintang yang selamanya kan menjadi kekasih langit..
Rabb.. Aku hanya inginkan bintangku, bukan bintang yang lain..
Satu bintang baru menawarkan mimpi.
Lalu mengapa tiada gemuruh dalam hati.
Mungkinkah asa sepenuhnya tempias bersama kabut malam.
Terbawa sinar bintang yang slama ini menyinari,
bintang yang bersinar dalam senyap..
Satu bintang baru melesat dari langit.
Haruskah tengadahkan tangan menyambut hadirnya,
sedangkan segenap jiwa telah terpatri pada satu bintang,
yang tak kan pernah turun dari langit..
Satu bintang baru menyapa nurani.
Lalu mengapa setiap hela nafas hanya memanggil satu nama,
bintang yang selamanya kan menjadi kekasih langit..
Rabb.. Aku hanya inginkan bintangku, bukan bintang yang lain..
05 Oktober 2015
Bintang.. Mungkin selamanya kau kan menjadi kekasih langit.
Berpendar indah menyapu pekatnya malam.
Tidak.. Aku tak kan memaksamu turun ke bumi.
Karena ku tahu seandainya pun kau mau,
Kau akan memilih turun ke belahan bumi lain
Jauh dari tempatku berpijak.
Tak mengapa. Aku hanya ingin tetap menatap cahayamu.
Merasakan benderang yang membias hingga ke sukma.
Tetaplah bersinar di malam-malam gelapku.
Itu saja... Cukup bagiku..
Berpendar indah menyapu pekatnya malam.
Tidak.. Aku tak kan memaksamu turun ke bumi.
Karena ku tahu seandainya pun kau mau,
Kau akan memilih turun ke belahan bumi lain
Jauh dari tempatku berpijak.
Tak mengapa. Aku hanya ingin tetap menatap cahayamu.
Merasakan benderang yang membias hingga ke sukma.
Tetaplah bersinar di malam-malam gelapku.
Itu saja... Cukup bagiku..
28 Maret 2014
a Letter for My Angel
Dear Mami tersayang,apa kabarmu saat ini?
Waktu yang bergulir
tak terasa telah berlari menjauh meninggalkan kita. Yang tersisa hanya jejak
kenangan, kian hari kian lekat dalam ingatan. Semua memori bersama Mami, saat
ini aku menyadari betapa berharganya saat-saat itu....
Mamiku tercinta..,Kepergianmu adalah
pertarungan terberatku melawan diriku sendiri. Menyadari bahwa Mami tak lagi
menjadi bagian dari kehidupanku, telah menjelmakan jiwa seolah tak bertuan.
Begitu kosong... begitu hampa...
Mi, betapa aku rindu
ingin memelukmu, mengecup kedua belah pipimu. Semua kebiasaan yang kulakukan
setiap hari bersamamu, dulu..Terkadang ketika
sedang beraktifitas di luar rumah, aku berharap saat pulang nanti Mami akan
menyambutku di depan rumah dengan senyummu yang hangat dan mendengar sapaan
khas mu memanggil namaku. Atau saat menjelang tidur di malam hari, kita akan
mengobrol apa saja sampai-sampai Mami ketiduran dan hingga pada akhirnya
tinggallah aku sendiri menikmati dengkuranmu.
Sungguh ini terasa
sebagai sebuah mimpi. Seolah baru kemarin aku masih bisa menatap wajahmu,
mengusap keningmu yang basah oleh keringat, menceritakan kisah lucu sekedar
untuk membuatmu tertawa, menguatkanmu agar segera pulih dari sakit.
Begitu besar harapan
kita untuk kesembuhan Mami. Melewati 37 hari yang teramat berat di Rumah Sakit.
Berada di ruangan High Care Unit tempat dimana hampir setiap hari kita menjadi
saksi pergumulan pasien-pasien kritis menjemput ajalnya. Peristiwa luar biasa
yang telah berubah menjadi suatu hal yang biasa karena begitu seringnya kita
menghadapi kejadian itu. Sepertinya Allah sengaja memperlihatkan
peristiwa-peristiwa itu, untuk mempersiapkan mental kita dalam menghadapi hal
serupa.
Namun sekuat dan sesiap apapun menerima kondisi Mami yang kala itu kian
memburuk, tetap saja membuat hati terasa hancur. Statement pesimis dari dokter yang kita tolak mentah-mentah, karena
keyakinan kita hanya satu, Mami insya Allah akan sembuh.
Mi, masih ingatkah
setiap hari kita berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan menyembuhkan
Mami dari sakit, persis 24 tahun yang lalu seperti keajaiban yang pernah
dikaruniakan Allah kepada Mami karena penyakit yang sama.
Semua terjawab pada
tanggal 2 Maret 2014. Saat malam beranjak kian larut, saat orang-orang lelap
dalam tidurnya, kita menghadapi puncak perjuangan itu. Allah ternyata lebih
mencintai Mami. Allah mendengar doa dan harapan kita agar Mami tidak lagi
merasakan kesakitan, tidak lagi menderita. Seiring hujan lebat yang turun pada
pagi dini hari itu, Allah menjemput Mami pergi kembali kehadirat-Nya.
Hanya derai air mata
yang dapat mewakili perasaan hatiku padamu Mi. Betapa aku ingin mengatakan
betapa aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Engkaulah malaikat
terindahku yang selalu ada setiap saat aku membutuhkanmu.
Tidurlah dalam damai
Mamiku tersayang. Lantunan doa akan menjadi hadiah untukmu setiap saat.
Tunggulah aku di Surga Allah yang indah. Suatu saat nanti kita akan bersama
lagi dalam keabadian. Insya Allah..
Mamiku tercinta..,Kepergianmu adalah pertarungan terberatku melawan diriku sendiri. Menyadari bahwa Mami tak lagi menjadi bagian dari kehidupanku, telah menjelmakan jiwa seolah tak bertuan. Begitu kosong... begitu hampa...
Mi, masih ingatkah setiap hari kita berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan menyembuhkan Mami dari sakit, persis 24 tahun yang lalu seperti keajaiban yang pernah dikaruniakan Allah kepada Mami karena penyakit yang sama.
17 Desember 2013
Sebuah pencerahan di rumah buku
Beberapa pekan yang
lalu Saya sempat berkunjung ke Perpustakaan Umum di Kota kelahiran Saya yang
berlokasi di kawasan perkantoran Balaikota. Niat berkunjung ke sana sudah lama
terpendam tapi urung terlaksana. Nah, saat Icha ponakan Saya yang baru
menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama mengajak, Saya jadi kepikiran lagi
untuk bisa kesana setelah sekian lama tak pernah lagi menginjakkan kaki ke
tempat itu. Awalnya Saya agak keberatan karena siang itu harus kembali ke kantor.
Namun setelah melihat raut wajahnya yang kecewa dan ditambah sedikit merajuk
akhirnya Saya luluh juga.
Begini nih rayunya
" Bou (baca: namboru. Dalam bahasa batak berarti tante), Ayolah temenin
Icha mau cari buku untuk tugas sekolah.."
"Emangnya di perpustakaan sekolah ga ada bukunya?" selidik Saya dengan nada ragu.
" Ga ada Bou, judul bukunya udah ditentuin. Tugasnya buat besok".
"Lho.. kenapa baru sekarang bilangnya, kan bisa dicari kemaren bukunya?"
"Tugasnya baru dikasih tadi sama gurunya.."
Mendengar penuturan Icha itu membuat Saya sedikit menggerutu dalam hati. Kenapa si guru bisa seenak hatinya memberi tugas pada murid dalam kondisi tergesa-gesa seperti itu. Mungkin lebih tepatnya merasa sedikit terbebani karena dengan begitu Saya mau tidak mau harus turun tangan menemaninya mencari buku yang diinginkannya. Bukannya tidak mau membantu ponakan, seperti yang sudah Saya utarakan sebelumnya, disaat bersamaan Saya juga harus segera kembali ke Kantor.
Singkat kata dengan beberapa pertimbangan akhirnya Saya berangkat menemani Icha. Disaat akan berangkat tiba-tiba handphone berdering, atasan Saya meminta untuk mengantarkan file kantor ke Balaikota. Yes! Pucuk dicinta ulam pun tiba, sambil mengantarkan file yang diminta berarti Saya bisa sekalian mengantarkan Icha ke Perpustakaan Umum karena lokasinya masih berada dalam kawasan yang sama.
"Emangnya di perpustakaan sekolah ga ada bukunya?" selidik Saya dengan nada ragu.
" Ga ada Bou, judul bukunya udah ditentuin. Tugasnya buat besok".
"Lho.. kenapa baru sekarang bilangnya, kan bisa dicari kemaren bukunya?"
"Tugasnya baru dikasih tadi sama gurunya.."
Mendengar penuturan Icha itu membuat Saya sedikit menggerutu dalam hati. Kenapa si guru bisa seenak hatinya memberi tugas pada murid dalam kondisi tergesa-gesa seperti itu. Mungkin lebih tepatnya merasa sedikit terbebani karena dengan begitu Saya mau tidak mau harus turun tangan menemaninya mencari buku yang diinginkannya. Bukannya tidak mau membantu ponakan, seperti yang sudah Saya utarakan sebelumnya, disaat bersamaan Saya juga harus segera kembali ke Kantor.
Singkat kata dengan beberapa pertimbangan akhirnya Saya berangkat menemani Icha. Disaat akan berangkat tiba-tiba handphone berdering, atasan Saya meminta untuk mengantarkan file kantor ke Balaikota. Yes! Pucuk dicinta ulam pun tiba, sambil mengantarkan file yang diminta berarti Saya bisa sekalian mengantarkan Icha ke Perpustakaan Umum karena lokasinya masih berada dalam kawasan yang sama.
Setiba di area perkantoran Balaikota Saya segera menemui atasan
Saya yang saat itu sedang berada di sebuah ruangan bagian Sekretariat Daerah.
Setelah menyerahkan file yang diminta Saya langsung undur diri dan berangkat
menuju Perpustakaan Umum dan tentu saja bersama ponakan Saya, Icha. Masuk
ke dalam gedung Perpustakaan yang ber-AC membuat suasana hati langsung adem.
Keengganan Saya menjelang berangkat tadi seketika sirna. Hanya beberapa
pengunjung yang terlihat tengah sibuk membaca koran di sofa-sofa yang tersedia
di depan pintu masuk. Sebagian lagi ada yang sedang memilih-milih buku. Icha,
setelah mengisi buku tamu langsung berkeliling mencari buku yang
dikehendakinya. Saya kemudian juga mengikuti Icha mengitari rak-rak buku yang
berjejer dengan rapi. Ketika Saya mengedarkan pandangan terlihat jejeran rak buku disepanjang ruang, hanya saja untuk ruangan yang cukup luas, kumpulan buku yang tersedia memang masih terbilang sedikit.
Namun kabar bagusnya, Saya sempat "mencuri dengar" saat pembahasan anggaran Tahun 2014 dengan DPRD, bahwa Kantor Arsip dan Perpustakaan telah disetujui untuk menganggarkan angka yang lumayan besar untuk pengadaan buku bacaan di perpustakaan ini. Saya membayangkan tahun depan akan banyak menemukan buku-buku baru best seller di deretan rak-rak di tempat ini. Pikiran Saya seperti melayang ke toko Gramedia yang penuh dengan buku-buku terbaik dan terlengkapnya. Membayangkan akan mendapati buku-bukunya Alitt, Bena, Bernard Batubara,Arief Muhammad alias Pocongg. Wow, pasti tempat ini akan menjadi tempat terkeren untuk sering dikunjungi.
Namun kabar bagusnya, Saya sempat "mencuri dengar" saat pembahasan anggaran Tahun 2014 dengan DPRD, bahwa Kantor Arsip dan Perpustakaan telah disetujui untuk menganggarkan angka yang lumayan besar untuk pengadaan buku bacaan di perpustakaan ini. Saya membayangkan tahun depan akan banyak menemukan buku-buku baru best seller di deretan rak-rak di tempat ini. Pikiran Saya seperti melayang ke toko Gramedia yang penuh dengan buku-buku terbaik dan terlengkapnya. Membayangkan akan mendapati buku-bukunya Alitt, Bena, Bernard Batubara,Arief Muhammad alias Pocongg. Wow, pasti tempat ini akan menjadi tempat terkeren untuk sering dikunjungi.
![]() |
| suasana perpustakaan dengan jejeran rak buku yang tertata baik |
![]() |
| Membaca buku diatas sofa merah itu pasti nyaman sekali :) |

Setelah beberapa saat memelototi satu-persatu buku yang
terpampang di rak buku, mata Saya berhenti pada sebuah buku berjudul
"Mengarang itu gampang" karangan Arswendo Atmowiloto. Saya yang saat
ini sedang menggemari segala sesuatu yang berbau tulis menulis langsung
tertarik untuk membaca buku ini. Sekilas Saya membaca, buku ini punya nuansa
tersendiri dengan gaya penulisan tanya jawab yang membuatnya menjadi bacaan
yang ringan. Akhirnya Saya memutuskan untuk meminjam buku tersebut dan
membacanya di rumah. Di saat bersamaan Saya juga menemukan sebuah buku lainnya
yang menarik perhatian Saya. Buku itu berjudul "Menjadi kaya dengan
menulis" yang ditulis oleh Rs. Rudatan. Buku ini sarat motivasi bagi
penulis pemula untuk terus berkarya melahirkan tulisan-tulisan tak peduli nanti
hasilnya akan bagus atau tidak, yang penting harus terus menulis.
Nah berikut ini Saya ingin mengupas beberapa hal penting dari
kedua buku tersebut, tentunya sebagai Mood booster buat Saya
pribadi yang memang sering moody untuk menulis. Mudah-mudahan
juga bermanfaat bagi anda yang juga punya passion yang sama dengan Saya.
Arswendo Atmowiloto :
1.
Siapa pun bisa menjadi penulis sepanjang memiiki---> minat
dan ambisi yang tak kunjung habis.
2.
Realitas Imajinatif.---> Melahirkan karangan berdasarkan
hasil imajinasi yang diolah dan diciptakan kembali oleh si penulis
3.
Ilham.---> Untuk mendapatkan ilham kita harus menyiapkan
diri. Setiap kejadian yang kita alami akan berlalu begitu saja bila tak
menyiapkan diri untuk menerima ilham. Datangnya ilham bisa kapan saja,dan hanya
kita sendiri yang tahu kapan waktu yang paling tepat untuk menerima ilham.
4.
Ilham ke ide.--->Saat mendapatkan ilham, penulis bisa menangkap
ide penulisan. Biasanya secara terperinci dan menfokuskan diri pada apa yang
sebenarnya ingin disampaikan dalam tulisannya.
5.
Plot. --->Plot atau alur cerita. Adanya rangkaian sebab akibat
dalam tulisan berupa permasalahan atau konflik.
Dari
sifatnya plot terdiri dari:
a.
Plot terbuka (merangsang
pembaca untuk mengembangkan jalan cerita)
b. Plot tertutup (akhir cerita
tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita)
c.
Campuran keduanya
Dilihat
dari jenisnya, plot dibedakan :
a. Plot
keras (karangan yang bagian akhirnya meledak diluar dugaan pembaca)
b. Plot
lembut (Akhir cerita tidak mengejutkan atau menjebak pembaca namun tetap bisa
diramu denganmenarik
6. Mengembangkan plot
Perlu ditelusuri
apa yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat agar didapat
kesimpulan
7. Tema
Dasar
pikiran penulis yang disampaikan lewat tulisannya
8. Mengikuti
sayembara (perlombaan menulis)
Keuntungan
mengikuti lomba menulis :
a. Bisa
menjajal kemampuan menulis
b. Bukan
hanya menyediakan hadiah tapi juga mempublikasikan nama kita
c. Lebih
mengenal disiplin waktu karena ada batas pengiriman tulisan
9. Perlu
membaca karya sastra
Kita bisa
mengetahui dan belajar dari pengalaman penulis lain dan membandingkan dengan
pengalaman kita sendiri. Dengan kata lain dapat memperkaya cakrawala dan
pandangan kita.
Rs. Rudatan :
1. Menulis
membuka peluang seseorang untuk menjadi jutawan
Dengan membuat tulisan di media massa, potensi mendapatkan
penghasilan jutaan rupiah perbulan bukan hal yang mustahil
2. Punya
bakat menulis atau tidak bukan masalah
Teruslah menulis sekalipun anda merasa tidak berbakat menulis.
Dengan terus menulis anda akan menjadi penulis yang produktif. Anda akan
dianggap berbakat oleh orang lain karena anda terus produktif dan terus
menulis, sebab menulis itu merupakan keterampilan. Makin diasah, tulisan anda
akan semakin bermutu.
3. Berhenti
membandingkan diri dengan seniman yang sudah terkenal
Anda akan tersiksa dan merasa tidak mampu menghasilkan tulisan
yang baik
4. Selalu
ada saat pertama kali
Penulis terkenal pun pernah mengalami kegagalan pada masa-masa
awal menulis, namun mereka tidak pernah mau berhenti. Sekarang mereka memetik
hasil dan tulisannya banyak dimuat di media dan berpenghasilan terus menerus.
5. Tidak ada
yang gratis
Jika ingin menjadi penulis dan mendapatkan hasil jutaan rupiah,
anda harus mau dan bersedia membayar harga yaitu dengan belajar dan berjuang
serta mengurangi kebiasaan bersenang-senang yang tidak bermanfaat. Anda perlu
menambah waktu untuk terus menulis dan meninggalkan waktu yang biasa dihabiskan
di depan televisi.
6. Waktu
tidak peduli anda tidur atau bekerja
Anda menulis atau atau tidak menulis, tidak berbuat apa-apa, waktu
akan tetap berjalan.
7. Idealisme
apa?
Idealisme dalam menulis sah-sah saja tapi kita harus pintar
menjadikan idealisme sebagai sesuatu yang praktis dalam kehidupan.
Misalnya mengubah idealisme menjadi uang. Tetaplah menulis sebagai ajang
mewujudkan idealisme anda dan kemudian menjualnya menjadi uang, karena
dalam menulis kita juga membutuhkan kertas yang harus dibeli dengan uang.
Itulah sekilas kesimpulan yang bisa Saya rangkum dari hasil penjelajahan di "sarang"nya para buku. Saya merasa mendapat sebuah hadiah tak terduga dari kunjungan hari itu. Saya percaya semua kejadian ini adalah petunjuk dari Tuhan, dan ini adalah awal. I believe it.. :)
30 Oktober 2013
Mari Berkaca!
Kali ini saya punya satu pertanyaan yang sedikit menggelitik, "pernahkah anda membicarakan kejelekan orang lain?" Hm.... jangan terlalu lama berpikir, saya tahu pasti semua orang pernah melakukannya, sadar atau tidak sadar, sengaja maupun tak sengaja. Sekarang bagaimana kalau pertanyaannya dibalik " apakah anda pernah mengetahui orang lain membicarakan anda? (dalam konotasi negatif tentunya)". Saya yakin jawabannya pasti penuh dengan rasa penolakan, marah, kaget, dan langsung mem-blacklist si oknum dari lingkaran pertemanan. Bagi orang-orang yang frontal pasti langsung pasang badan dan tak ayal sebuah bogem mentah sebagai hadiahnya.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa efek yang ditimbulkan dari perbuatan membicarakan orang lain sangat kompleks. Sepele tentunya, bagi si pelaku. Setelah dengan sepuas hati melontarkan rangkaian kata yang menyudutkan si objek, semudah itu pula melupakan kalimat-kalimat miring yang telah diucapkannya dengan penuh semangat plus tambahan bumbu penyedap dibeberapa bagian.
Ya, berada diposisi objek pembicaraan sungguh tak mengenakkan. Apalagi jika hal itu orang dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal. Orang yang saat di depan kita berbicara begitu manisnya tapi saat berada dibelakang malah balik menyerang. Apa itu namanya coba.. hypocrite right?
Bagi orang yang tak siap mental, barangkali akan langsung jadi drop. Bertanya-tanya dalam hati apa kesalahan yang pernah dilakukannya sampai-sampai orang lain membicarakannya, mencari-cari kekurangannya sedemikian rupa. Padahal jika kita mau jujur, mana ada sih manusia di bumi ini yang sempurna. Manusia sudah ditakdirkan sang Illahi sebagai makhluk yang punya kelebihan dan kekurangan. Tapi kenapa orang lebih sering melihat kekurangan orang lain dibandingkan kelebihan yang dimilikinya? Orang lebih suka menilai orang lain daripada berintrospeksi dengan dirinya sendiri. Bukankah sempurna itu adalah teritori mutlak Yang Maha Kuasa?
Menurut Saya, kalaupun kita merasa bahwa seseorang mempunyai kekurangan atau kesalahan, masih ada kok jalan yang lebih baik dan bijak daripada membicarakan kejelekannya dengan orang lain. Ya bicarakan dan utarakan saja langsung pada orang yang bersangkutan. Tentunya dengan cara yang santun dan pendekatan yang baik. Saya rasa sepanjang penyampaian kita disertai alasan yang logis, pastinya orang itu bisa menerima dan bisa memperbaiki diri. Atau mungkin setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut malah bisa mengubah cara berpikir kita, sebab terkadang kita memberikan penilaian hanya dari sudut pandang kita sendiri. Padahal dalam menyikapi suatu hal kita juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain yang menyebabkannya terjadi. Barangkali ada alasan tertentu yang membuat orang yang kita nilai itu melakukan perbuatan/ bersikap tidak sebagaimana lazimnya.
Saya terkesan dengan sebuah kutipan dari Eleanor Roosevelt yang berbunyi "Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people". Kira-kira artinya orang yang berakal besar membicarakan ide-ide. Orang berakal sedang membicarakan kejadian-kejadian. Orang berakal kecil membicarakan orang. Jjiaah.. ngena banget tu pepatah. Sekarang terserah anda mau tergolong orang yang berakal gimana. Yang jelas orang-orang yang lebih suka membicarakan orang lain sesungguhnya adalah orang yang lemah. Kenapa? karena dia sebenarnya bersembunyi dibalik kekurangan orang lain hanya agar terlihat hebat dimata orang yang diajaknya bergunjing.
Saya yakin kita semua tahu kalau membicarakan orang itu perbuatan tidak terpuji yang dibenci Tuhan. Saya cuma ingin mengingatkan, bukan sok menggurui. Semoga kita bisa sama-sama introspeksi diri atas kekurangan yang kita miliki. Mari berkaca!!
30 September 2013
Me and My desire...
Here I am ... Berada di depan PC adalah saat-saat yang paling menyenangkan buatku. Tempat ternyaman untuk berkelana meluapkan semua rasa, asa dan berjuta imaji yang seringkali terendap tak tersalurkan. Terlebih disaat-saat sepi dari peradaban seperti hari ini. Sejenak melepas rutinitas kantor yang tak pernah habisnya. Walaupun sedikit harus "waspada" dengan satu dua kepala yang seringkali berseliweran di depan meja kerjaku dan seringkali iseng mengintip layar PC yang sedang ku buka. Barangkali itu juga yang membuat mereka penasaran dengan kesibukan dan keasyikan-ku sendiri. Memang sih, kalau sudah berteman PC seringkali aku larut dalam kesendirian dan tak mengindahkan dunia sekitarku. Don't ask me how much I love to browsing, terlebih kalo udah ketemu blog yang seru. Membaca kisah-kisah inspiratif para penulis pemula sampai mereka berhasil menerbitkan sebuah tulisan berwujud buku atau novel, membuat adrenalinku terpacu. I really wanna be like them, pengen banget punya hasil karya yang diterbitkan menjadi buku. Tulisan yang bisa dibaca banyak orang, bisa bikin orang terhibur dengan apa yang aku tulis or at least sekedar berbagi pikiran.
Plok...
Tuh kan baru aja aku bilang, tiba-tiba muncul satu makhluk pengganggu yang membuyarkan konsentrasiku, "nyamuk" kantor yang mendadak berada disebelah meja kerja-ku dan berusaha mengusik ketenangan. Setelah berduel perang mulut seper sekian detik, akhirnya dia beranjak pergi.
Yes... akhirnya aku bisa bernapas lega dan melanjutkan "duniaku". Just like what I say, my big desire is to be a real writer. Menulis membuat aku seolah hidup dalam dunia baru. Dunia yang penuh dengan semangat. Dunia yang membuncahkan ide dan inspirasi, tempat berkeluh kesah sepuasnya tanpa harus dibelenggu interupsi dan penghakiman. Tempat terbaik ketika orang-orang lebih suka berkumpul dan memulai aktifitas per-gosip-an dan menciptakan berita teraktual tentang si A atau si B, suatu hal yang ingin aku hindari sebisa mungkin.
Inilah aku yang penuh dengan impian, yang tak kan bisa dimengerti oleh orang-orang betah dengan zona amannya. Orang-orang yang berpaham hidup itu mengalir saja dan tak perlu melakukan hal-hal yang tak pasti. Terlepas dari anggapan itu, sebenarnya aku hanya ingin melakukan sesuatu yang aku sukai. Mungkin sama halnya seperti para lelaki yang menggilai sepak bola atau permainan play station, aku merasa attract dengan hal-hal berbau tulisan.Walau aku akui sebenarnya tidak terlalu suka membaca buku atau novel-novel yang berat.
Yang jelas seingatku hobi menulis sebenarnya sudah ada sejak aku masih di Sekolah Dasar, yah meski hanya menulis diary. Tapi dari sana aku menyadari bahwa dengan menulis aku bisa mencurahkan segenap isi hati. Lalu ketika beranjak remaja, mungkin sekitar kelas 2 SMP aku ingat sempat membuat sebuah cerpen yang kukerjakan sendiri dengan menggunakan mesin tik. Di masa itu komputer masih merupakan barang langka. Sayangnya cerpen itu hilang tak berbekas saat seorang teman meminjamnya dan tak pernah mengembalikan. Padahal aku penasaran juga ingin membaca lagi cerpen ala ABG-ku dulu, ingin tahu gaya bahasa yang kupakai saat itu.
Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu, hasrat menulis kembali menggeliat. Puncaknya saat menemukan situs blogger tercinta ini. Walau tulisanku masih dalam hitungan jari tapi cukup memberi kepuasan batin setiap kali mengunjungi laman demi lamannya. Terlebih lagi setelah menemukan situs nulis buku, sebuah situs yang membuka kesempatan bagi penulis pemula untuk menerbitkan tulisannya menjadi sebuah buku, membuat semangatku semakin menjadi. Saat ini aku sudah mulai membuat sebuah fiksi, baru beberapa halaman sih tapi mudah-mudahan bisa diselesaikan sampai the end. Kalo ditanya kapan bakal terselesaikan, jawabannya "haha.. I need mood booster" :D Sebenarnya bukan hanya mood yang perlu di-charging, tapi bagaimana menyiasati kesibukan kerja di kantor dan di rumah yang memerlukan sedikit "celah waktu". Terus terang akhir-akhir ini susah sekali mencari waktu senggang untuk menulis lagi. Well, aku berharap mudah-mudahan semua "mimpi" yang sedang bertengger di kepala ini bakal menemukan jalannya. Soon or later, I will be whatever I want to be.. Amin..
Plok...
Tuh kan baru aja aku bilang, tiba-tiba muncul satu makhluk pengganggu yang membuyarkan konsentrasiku, "nyamuk" kantor yang mendadak berada disebelah meja kerja-ku dan berusaha mengusik ketenangan. Setelah berduel perang mulut seper sekian detik, akhirnya dia beranjak pergi.
Yes... akhirnya aku bisa bernapas lega dan melanjutkan "duniaku". Just like what I say, my big desire is to be a real writer. Menulis membuat aku seolah hidup dalam dunia baru. Dunia yang penuh dengan semangat. Dunia yang membuncahkan ide dan inspirasi, tempat berkeluh kesah sepuasnya tanpa harus dibelenggu interupsi dan penghakiman. Tempat terbaik ketika orang-orang lebih suka berkumpul dan memulai aktifitas per-gosip-an dan menciptakan berita teraktual tentang si A atau si B, suatu hal yang ingin aku hindari sebisa mungkin.
Inilah aku yang penuh dengan impian, yang tak kan bisa dimengerti oleh orang-orang betah dengan zona amannya. Orang-orang yang berpaham hidup itu mengalir saja dan tak perlu melakukan hal-hal yang tak pasti. Terlepas dari anggapan itu, sebenarnya aku hanya ingin melakukan sesuatu yang aku sukai. Mungkin sama halnya seperti para lelaki yang menggilai sepak bola atau permainan play station, aku merasa attract dengan hal-hal berbau tulisan.Walau aku akui sebenarnya tidak terlalu suka membaca buku atau novel-novel yang berat.
Yang jelas seingatku hobi menulis sebenarnya sudah ada sejak aku masih di Sekolah Dasar, yah meski hanya menulis diary. Tapi dari sana aku menyadari bahwa dengan menulis aku bisa mencurahkan segenap isi hati. Lalu ketika beranjak remaja, mungkin sekitar kelas 2 SMP aku ingat sempat membuat sebuah cerpen yang kukerjakan sendiri dengan menggunakan mesin tik. Di masa itu komputer masih merupakan barang langka. Sayangnya cerpen itu hilang tak berbekas saat seorang teman meminjamnya dan tak pernah mengembalikan. Padahal aku penasaran juga ingin membaca lagi cerpen ala ABG-ku dulu, ingin tahu gaya bahasa yang kupakai saat itu.
Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu, hasrat menulis kembali menggeliat. Puncaknya saat menemukan situs blogger tercinta ini. Walau tulisanku masih dalam hitungan jari tapi cukup memberi kepuasan batin setiap kali mengunjungi laman demi lamannya. Terlebih lagi setelah menemukan situs nulis buku, sebuah situs yang membuka kesempatan bagi penulis pemula untuk menerbitkan tulisannya menjadi sebuah buku, membuat semangatku semakin menjadi. Saat ini aku sudah mulai membuat sebuah fiksi, baru beberapa halaman sih tapi mudah-mudahan bisa diselesaikan sampai the end. Kalo ditanya kapan bakal terselesaikan, jawabannya "haha.. I need mood booster" :D Sebenarnya bukan hanya mood yang perlu di-charging, tapi bagaimana menyiasati kesibukan kerja di kantor dan di rumah yang memerlukan sedikit "celah waktu". Terus terang akhir-akhir ini susah sekali mencari waktu senggang untuk menulis lagi. Well, aku berharap mudah-mudahan semua "mimpi" yang sedang bertengger di kepala ini bakal menemukan jalannya. Soon or later, I will be whatever I want to be.. Amin..
Langganan:
Postingan (Atom)



