22 Maret 2013

Kepala 3

Suara-suara yang menyerupai auman. 
Mengusik tenang yang susah payah ku redam.
Ya inilah aku dengan takdir yang belum terjemput.
Bukan ingin mengelak, setiap jengkal tak pernah luput dari benak.
Semua telah lahap kunikmati, sekalipun empedu yang tak pernah terbayang pahitnya.
Berkelana bersama matahari yang timbul dan tenggelam, seperti repetisi anak sekolah dasar bertahun-tahun dengan seragam yang berwarna sama.
Sebuah senyum kecut adalah hadiah atas nyanyian sumbang.
Tak mengapa, ikhtiarku tak kan pernah surut dengan berjuta penghakiman.
Hanya masa yang akan menjawab. 
Aku percaya masa itu akan tiba, masa yang akan meleburkan harapan , impian dan asa menjadi   KENYATAAN...

INSAN YANG TERPILIH



INSAN YANG TERPILIH
Apakah yang terbersit dalam pikiran kita saat merasakan kebahagiaan? Pastinya kita akan berkata “ Ya, tentu saja Saya pantas mendapatkannya”, “ Saya sangat beruntung” atau “Wah, Tuhan baik sekali telah memberikan hadiah ini”. Ungkapannya sangat beragam dan yang pasti sangat menggambarkan kesukaan.
Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya, kita dihadapkan pada suatu keadaan yang membuat kita merasa serba kesusahan. Semisal ditimpa musibah kecelakaan, kemalingan, sakit atau kehilangan orang yang kita kasihi. Sebagian besar kita akan sering berkeluh kesah, meratapi nasib dan tak jarang pada akhirnya menyalahkan takdir Tuhan. Menganggap Tuhan telah pilih kasih, membandingkan penderitaan kita dengan apa yang tidak dialami oleh orang lain. “Tuhan, kenapa harus Saya yang mengalaminya. Mengapa bukan orang lain?” sadar atau pun tidak kita pernah berpikir seperti itu.
Kita tidak menyadari betapa dibalik segala kesusahan yang menimpa, sesungguhnya tersimpan makna yang luar biasa dashyatnya. Mengutip pepatah yang mengatakan “ hidup adalah cobaan”,  memang benar adanya karena selama kita hidup di dunia pasti akan selalu ada cobaan yang menyertai. Kalau tak ingin merasakan kesusahan dan cobaan, ya tak usah hidup saja. So simple, he..he..


Masih bertanya-tanya akan makna kesusahan yang diberikan Tuhan? Dari hasil perburuan Saya menemukan jawaban bahwa menurut Al Qur'an dan Hadits, kesusahan atau cobaan itu paling sedikit mencakup 3 dimensi :

  1. Sebagai hukuman dari Allah SWT atas ketidaktaatan yang dilakukan manusia pada aturan yang telah ditetapkan-Nya (hukum sebab akibat). 
  2. Sebagai penghapusan dosa sehingga dengan adanya demikian diakhirat nanti terdapat dosa yang tidak diperhitungkan lagi sebab hukumannya sudah ditunaikan Allah SWT di dunia (sebagai penebus dosa). 
  3. Sebagai cobaan dan ujian untuk kenaikan derajat di mata Allah SWT (sebagaimana yang dialami  oleh Rasulullah).
Dari ketiga poin diatas pastinya kita jadi berpikir kira-kiranya cobaan yang ditimpakan Tuhan kepada kita tergolong yang mana. Jangan sampai deh, Allah memberikan cobaan sebagai hukuman. Yang jelas harus terus berusaha agar setiap tingkah laku kita jauh dari hal-hal yang dilarang dan dibenci sang Khalik. Sekalipun suatu saat atau bahkan saat ini  kita mengalami cobaan, berpikiran positif aja kalo cobaan itu merupakan ujian tanda kasih Tuhan pada kita. Bukankah Tuhan itu seperti apa yang kita pikirkan? 


So, seberat apapun cobaan yang kita alami, jangan berpikir Tuhan tidak menyayangi kita. Justru sebaliknya, dengan cobaan itu sesungguhnya Tuhan ingin merangkul kita untuk selalu dekat pada-Nya, selalu mengingat-Nya. Tiada makhluk yang paling beruntung selain makhluk yang selalu dirindukan Tuhannya. Tidak semua orang dapat merasakannya, karena orang-orang yang selalu diuji adalah insan yang terpilih :) ....



My Blog List

Snag a button