17 Desember 2013

Sebuah pencerahan di rumah buku

Beberapa pekan yang lalu Saya sempat berkunjung ke Perpustakaan Umum di Kota kelahiran Saya yang berlokasi di kawasan perkantoran Balaikota. Niat berkunjung ke sana sudah lama terpendam tapi urung terlaksana. Nah, saat Icha ponakan Saya yang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama mengajak, Saya jadi kepikiran lagi untuk bisa kesana setelah sekian lama tak pernah lagi menginjakkan kaki ke tempat itu. Awalnya Saya agak keberatan karena siang itu harus kembali ke kantor. Namun setelah melihat raut wajahnya yang kecewa dan ditambah sedikit merajuk akhirnya Saya luluh juga.
Begini nih rayunya " Bou (baca: namboru. Dalam bahasa batak berarti tante), Ayolah temenin Icha  mau cari buku untuk tugas sekolah.."
"Emangnya di perpustakaan sekolah ga ada bukunya?" selidik Saya dengan nada ragu.
" Ga ada Bou, judul bukunya udah ditentuin. Tugasnya buat besok".
"Lho.. kenapa baru sekarang bilangnya, kan bisa dicari kemaren bukunya?"
"Tugasnya baru dikasih tadi sama gurunya.."
Mendengar penuturan Icha itu membuat Saya sedikit menggerutu dalam hati. Kenapa si guru bisa seenak hatinya memberi tugas pada murid dalam kondisi tergesa-gesa seperti itu. Mungkin lebih tepatnya merasa sedikit terbebani karena dengan begitu Saya mau tidak mau harus turun tangan menemaninya mencari buku yang diinginkannya. Bukannya tidak mau membantu ponakan, seperti yang sudah Saya utarakan sebelumnya, disaat bersamaan Saya juga harus segera kembali ke Kantor.

Singkat kata dengan beberapa pertimbangan akhirnya Saya berangkat menemani Icha. Disaat akan berangkat tiba-tiba handphone berdering, atasan Saya meminta untuk mengantarkan file kantor ke Balaikota. Yes! Pucuk dicinta ulam pun tiba, sambil mengantarkan file yang diminta berarti Saya bisa sekalian mengantarkan Icha ke Perpustakaan Umum karena lokasinya masih berada dalam kawasan yang sama.  
Setiba di area perkantoran Balaikota Saya segera menemui atasan Saya yang saat itu sedang berada di sebuah ruangan bagian Sekretariat Daerah. Setelah menyerahkan file yang diminta Saya langsung undur diri dan berangkat menuju Perpustakaan Umum dan tentu saja bersama ponakan Saya, Icha. Masuk ke dalam gedung Perpustakaan yang ber-AC membuat suasana hati langsung adem. Keengganan Saya menjelang berangkat tadi seketika sirna. Hanya beberapa pengunjung yang terlihat tengah sibuk membaca koran di sofa-sofa yang tersedia di depan pintu masuk. Sebagian lagi ada yang sedang memilih-milih buku. Icha, setelah mengisi buku tamu langsung berkeliling mencari buku yang dikehendakinya. Saya kemudian juga mengikuti Icha mengitari rak-rak buku yang berjejer dengan rapi. Ketika Saya mengedarkan pandangan terlihat jejeran rak buku disepanjang ruang, hanya saja untuk ruangan yang cukup luas, kumpulan buku yang tersedia memang masih terbilang sedikit.

Namun kabar bagusnya, Saya sempat "mencuri dengar" saat pembahasan anggaran Tahun 2014 dengan DPRD, bahwa Kantor Arsip dan Perpustakaan telah disetujui untuk menganggarkan angka yang lumayan besar untuk pengadaan buku bacaan di perpustakaan ini. Saya membayangkan tahun depan akan banyak menemukan buku-buku baru best seller di deretan rak-rak di tempat ini. Pikiran Saya seperti melayang ke toko Gramedia yang penuh dengan buku-buku terbaik dan terlengkapnya. Membayangkan akan mendapati buku-bukunya Alitt, Bena, Bernard Batubara,Arief Muhammad alias Pocongg. Wow, pasti tempat ini akan menjadi tempat terkeren untuk sering dikunjungi.
suasana perpustakaan dengan jejeran rak buku yang tertata baik


Membaca buku diatas sofa merah itu pasti nyaman sekali :)
                                    


 Setelah beberapa saat memelototi satu-persatu buku yang terpampang di rak buku, mata Saya berhenti pada sebuah buku berjudul "Mengarang itu gampang" karangan Arswendo Atmowiloto. Saya yang saat ini sedang menggemari segala sesuatu yang berbau tulis menulis langsung tertarik untuk membaca buku ini. Sekilas Saya membaca, buku ini punya nuansa tersendiri dengan gaya penulisan tanya jawab yang membuatnya menjadi bacaan yang ringan. Akhirnya Saya memutuskan untuk meminjam buku tersebut dan membacanya di rumah. Di saat bersamaan Saya juga menemukan sebuah buku lainnya yang menarik perhatian Saya. Buku itu berjudul "Menjadi kaya dengan menulis" yang ditulis oleh Rs. Rudatan. Buku ini sarat motivasi bagi penulis pemula untuk terus berkarya melahirkan tulisan-tulisan tak peduli nanti hasilnya akan bagus atau tidak, yang penting harus terus menulis. 



Nah berikut ini Saya ingin mengupas beberapa hal penting dari kedua buku tersebut, tentunya sebagai Mood booster buat Saya pribadi yang memang sering moody untuk menulis. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi anda yang juga punya passion yang sama dengan Saya.
Arswendo Atmowiloto :

1.     Siapa pun bisa menjadi penulis sepanjang memiiki---> minat dan ambisi yang tak kunjung habis.
2.     Realitas Imajinatif.---> Melahirkan karangan berdasarkan hasil imajinasi yang diolah dan diciptakan kembali oleh si penulis
3.     Ilham.---> Untuk mendapatkan ilham kita harus menyiapkan diri. Setiap kejadian yang kita alami akan berlalu begitu saja bila tak menyiapkan diri untuk menerima ilham. Datangnya ilham bisa kapan saja,dan hanya kita sendiri yang tahu kapan waktu yang paling tepat untuk menerima ilham.
4.     Ilham ke ide.--->Saat mendapatkan ilham, penulis bisa menangkap ide penulisan. Biasanya secara terperinci dan menfokuskan diri pada apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam tulisannya.
5.      Plot. --->Plot atau alur cerita. Adanya rangkaian sebab akibat dalam tulisan berupa permasalahan atau konflik.
Dari sifatnya plot terdiri dari:
a.      Plot terbuka (merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita)
b.      Plot tertutup (akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita)
c.      Campuran keduanya

Dilihat dari jenisnya, plot dibedakan :
a.   Plot keras (karangan yang bagian akhirnya meledak diluar dugaan pembaca)
b.   Plot lembut (Akhir cerita tidak mengejutkan atau menjebak pembaca namun tetap bisa diramu denganmenarik

6.   Mengembangkan plot
          Perlu ditelusuri apa yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat agar didapat kesimpulan
7.   Tema
           Dasar pikiran penulis yang disampaikan lewat tulisannya
8.   Mengikuti sayembara (perlombaan menulis)
         Keuntungan mengikuti lomba menulis :
a. Bisa menjajal kemampuan menulis
b. Bukan hanya menyediakan hadiah tapi juga mempublikasikan nama kita
c. Lebih mengenal disiplin waktu karena ada batas pengiriman tulisan
9.     Perlu membaca karya sastra
Kita bisa mengetahui dan belajar dari pengalaman penulis lain dan membandingkan dengan pengalaman kita sendiri. Dengan kata lain dapat memperkaya cakrawala dan pandangan kita.

Rs. Rudatan :
1.  Menulis membuka peluang seseorang untuk menjadi jutawan
Dengan membuat tulisan di media massa, potensi mendapatkan penghasilan jutaan rupiah perbulan bukan hal yang mustahil
2.  Punya bakat menulis atau tidak bukan masalah
Teruslah menulis sekalipun anda merasa tidak berbakat menulis. Dengan terus menulis anda akan menjadi penulis yang produktif. Anda akan dianggap berbakat oleh orang lain karena anda terus produktif dan terus menulis, sebab menulis itu merupakan keterampilan. Makin diasah, tulisan anda akan semakin bermutu.
3.  Berhenti membandingkan diri dengan seniman yang sudah terkenal
Anda akan tersiksa dan merasa tidak mampu menghasilkan tulisan yang baik
4.  Selalu ada saat pertama kali
Penulis terkenal pun pernah mengalami kegagalan pada masa-masa awal menulis, namun mereka tidak pernah mau berhenti. Sekarang mereka memetik hasil dan tulisannya banyak dimuat di media dan berpenghasilan terus menerus.
5.  Tidak ada yang gratis
Jika ingin menjadi penulis dan mendapatkan hasil jutaan rupiah, anda harus mau dan bersedia membayar harga yaitu dengan belajar dan berjuang serta mengurangi kebiasaan bersenang-senang yang tidak bermanfaat. Anda perlu menambah waktu untuk terus menulis dan meninggalkan waktu yang biasa dihabiskan di depan televisi.
6.  Waktu tidak peduli anda tidur atau bekerja
Anda menulis atau atau tidak menulis, tidak berbuat apa-apa, waktu akan tetap berjalan.
7.  Idealisme apa?
Idealisme dalam menulis sah-sah saja tapi kita harus pintar menjadikan idealisme sebagai sesuatu yang praktis  dalam kehidupan. Misalnya mengubah idealisme menjadi uang. Tetaplah menulis sebagai ajang mewujudkan idealisme anda  dan kemudian menjualnya menjadi uang, karena dalam menulis kita juga membutuhkan kertas yang harus dibeli dengan uang.

Itulah sekilas kesimpulan yang bisa Saya rangkum dari hasil penjelajahan di "sarang"nya para buku. Saya merasa mendapat sebuah hadiah tak terduga dari kunjungan hari itu. Saya percaya semua kejadian ini adalah petunjuk dari Tuhan, dan ini adalah awal. I believe it.. :)


My Blog List

Snag a button