Kali ini saya punya satu pertanyaan yang sedikit menggelitik, "pernahkah anda membicarakan kejelekan orang lain?" Hm.... jangan terlalu lama berpikir, saya tahu pasti semua orang pernah melakukannya, sadar atau tidak sadar, sengaja maupun tak sengaja. Sekarang bagaimana kalau pertanyaannya dibalik " apakah anda pernah mengetahui orang lain membicarakan anda? (dalam konotasi negatif tentunya)". Saya yakin jawabannya pasti penuh dengan rasa penolakan, marah, kaget, dan langsung mem-blacklist si oknum dari lingkaran pertemanan. Bagi orang-orang yang frontal pasti langsung pasang badan dan tak ayal sebuah bogem mentah sebagai hadiahnya.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa efek yang ditimbulkan dari perbuatan membicarakan orang lain sangat kompleks. Sepele tentunya, bagi si pelaku. Setelah dengan sepuas hati melontarkan rangkaian kata yang menyudutkan si objek, semudah itu pula melupakan kalimat-kalimat miring yang telah diucapkannya dengan penuh semangat plus tambahan bumbu penyedap dibeberapa bagian.
Ya, berada diposisi objek pembicaraan sungguh tak mengenakkan. Apalagi jika hal itu orang dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal. Orang yang saat di depan kita berbicara begitu manisnya tapi saat berada dibelakang malah balik menyerang. Apa itu namanya coba.. hypocrite right?
Bagi orang yang tak siap mental, barangkali akan langsung jadi drop. Bertanya-tanya dalam hati apa kesalahan yang pernah dilakukannya sampai-sampai orang lain membicarakannya, mencari-cari kekurangannya sedemikian rupa. Padahal jika kita mau jujur, mana ada sih manusia di bumi ini yang sempurna. Manusia sudah ditakdirkan sang Illahi sebagai makhluk yang punya kelebihan dan kekurangan. Tapi kenapa orang lebih sering melihat kekurangan orang lain dibandingkan kelebihan yang dimilikinya? Orang lebih suka menilai orang lain daripada berintrospeksi dengan dirinya sendiri. Bukankah sempurna itu adalah teritori mutlak Yang Maha Kuasa?
Menurut Saya, kalaupun kita merasa bahwa seseorang mempunyai kekurangan atau kesalahan, masih ada kok jalan yang lebih baik dan bijak daripada membicarakan kejelekannya dengan orang lain. Ya bicarakan dan utarakan saja langsung pada orang yang bersangkutan. Tentunya dengan cara yang santun dan pendekatan yang baik. Saya rasa sepanjang penyampaian kita disertai alasan yang logis, pastinya orang itu bisa menerima dan bisa memperbaiki diri. Atau mungkin setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut malah bisa mengubah cara berpikir kita, sebab terkadang kita memberikan penilaian hanya dari sudut pandang kita sendiri. Padahal dalam menyikapi suatu hal kita juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain yang menyebabkannya terjadi. Barangkali ada alasan tertentu yang membuat orang yang kita nilai itu melakukan perbuatan/ bersikap tidak sebagaimana lazimnya.
Saya terkesan dengan sebuah kutipan dari Eleanor Roosevelt yang berbunyi "Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people". Kira-kira artinya orang yang berakal besar membicarakan ide-ide. Orang berakal sedang membicarakan kejadian-kejadian. Orang berakal kecil membicarakan orang. Jjiaah.. ngena banget tu pepatah. Sekarang terserah anda mau tergolong orang yang berakal gimana. Yang jelas orang-orang yang lebih suka membicarakan orang lain sesungguhnya adalah orang yang lemah. Kenapa? karena dia sebenarnya bersembunyi dibalik kekurangan orang lain hanya agar terlihat hebat dimata orang yang diajaknya bergunjing.
Saya yakin kita semua tahu kalau membicarakan orang itu perbuatan tidak terpuji yang dibenci Tuhan. Saya cuma ingin mengingatkan, bukan sok menggurui. Semoga kita bisa sama-sama introspeksi diri atas kekurangan yang kita miliki. Mari berkaca!!