22 Maret 2013

Kepala 3

Suara-suara yang menyerupai auman. 
Mengusik tenang yang susah payah ku redam.
Ya inilah aku dengan takdir yang belum terjemput.
Bukan ingin mengelak, setiap jengkal tak pernah luput dari benak.
Semua telah lahap kunikmati, sekalipun empedu yang tak pernah terbayang pahitnya.
Berkelana bersama matahari yang timbul dan tenggelam, seperti repetisi anak sekolah dasar bertahun-tahun dengan seragam yang berwarna sama.
Sebuah senyum kecut adalah hadiah atas nyanyian sumbang.
Tak mengapa, ikhtiarku tak kan pernah surut dengan berjuta penghakiman.
Hanya masa yang akan menjawab. 
Aku percaya masa itu akan tiba, masa yang akan meleburkan harapan , impian dan asa menjadi   KENYATAAN...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Blog List

Snag a button