Dear Mami tersayang,apa kabarmu saat ini?
Waktu yang bergulir
tak terasa telah berlari menjauh meninggalkan kita. Yang tersisa hanya jejak
kenangan, kian hari kian lekat dalam ingatan. Semua memori bersama Mami, saat
ini aku menyadari betapa berharganya saat-saat itu....
Mamiku tercinta..,Kepergianmu adalah
pertarungan terberatku melawan diriku sendiri. Menyadari bahwa Mami tak lagi
menjadi bagian dari kehidupanku, telah menjelmakan jiwa seolah tak bertuan.
Begitu kosong... begitu hampa...
Mi, betapa aku rindu
ingin memelukmu, mengecup kedua belah pipimu. Semua kebiasaan yang kulakukan
setiap hari bersamamu, dulu..Terkadang ketika
sedang beraktifitas di luar rumah, aku berharap saat pulang nanti Mami akan
menyambutku di depan rumah dengan senyummu yang hangat dan mendengar sapaan
khas mu memanggil namaku. Atau saat menjelang tidur di malam hari, kita akan
mengobrol apa saja sampai-sampai Mami ketiduran dan hingga pada akhirnya
tinggallah aku sendiri menikmati dengkuranmu.
Sungguh ini terasa
sebagai sebuah mimpi. Seolah baru kemarin aku masih bisa menatap wajahmu,
mengusap keningmu yang basah oleh keringat, menceritakan kisah lucu sekedar
untuk membuatmu tertawa, menguatkanmu agar segera pulih dari sakit.
Begitu besar harapan
kita untuk kesembuhan Mami. Melewati 37 hari yang teramat berat di Rumah Sakit.
Berada di ruangan High Care Unit tempat dimana hampir setiap hari kita menjadi
saksi pergumulan pasien-pasien kritis menjemput ajalnya. Peristiwa luar biasa
yang telah berubah menjadi suatu hal yang biasa karena begitu seringnya kita
menghadapi kejadian itu. Sepertinya Allah sengaja memperlihatkan
peristiwa-peristiwa itu, untuk mempersiapkan mental kita dalam menghadapi hal
serupa.
Namun sekuat dan sesiap apapun menerima kondisi Mami yang kala itu kian
memburuk, tetap saja membuat hati terasa hancur. Statement pesimis dari dokter yang kita tolak mentah-mentah, karena
keyakinan kita hanya satu, Mami insya Allah akan sembuh.
Mi, masih ingatkah
setiap hari kita berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan menyembuhkan
Mami dari sakit, persis 24 tahun yang lalu seperti keajaiban yang pernah
dikaruniakan Allah kepada Mami karena penyakit yang sama.
Semua terjawab pada
tanggal 2 Maret 2014. Saat malam beranjak kian larut, saat orang-orang lelap
dalam tidurnya, kita menghadapi puncak perjuangan itu. Allah ternyata lebih
mencintai Mami. Allah mendengar doa dan harapan kita agar Mami tidak lagi
merasakan kesakitan, tidak lagi menderita. Seiring hujan lebat yang turun pada
pagi dini hari itu, Allah menjemput Mami pergi kembali kehadirat-Nya.
Hanya derai air mata
yang dapat mewakili perasaan hatiku padamu Mi. Betapa aku ingin mengatakan
betapa aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Engkaulah malaikat
terindahku yang selalu ada setiap saat aku membutuhkanmu.
Tidurlah dalam damai
Mamiku tersayang. Lantunan doa akan menjadi hadiah untukmu setiap saat.
Tunggulah aku di Surga Allah yang indah. Suatu saat nanti kita akan bersama
lagi dalam keabadian. Insya Allah..
Mamiku tercinta..,Kepergianmu adalah pertarungan terberatku melawan diriku sendiri. Menyadari bahwa Mami tak lagi menjadi bagian dari kehidupanku, telah menjelmakan jiwa seolah tak bertuan. Begitu kosong... begitu hampa...
Mi, masih ingatkah setiap hari kita berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan menyembuhkan Mami dari sakit, persis 24 tahun yang lalu seperti keajaiban yang pernah dikaruniakan Allah kepada Mami karena penyakit yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar