28 Maret 2014

a Letter for My Angel


Dear Mami tersayang,apa kabarmu saat ini?

Waktu yang bergulir tak terasa telah berlari menjauh meninggalkan kita. Yang tersisa hanya jejak kenangan, kian hari kian lekat dalam ingatan. Semua memori bersama Mami, saat ini aku menyadari betapa berharganya saat-saat itu.... 

Mamiku tercinta..,Kepergianmu adalah pertarungan terberatku melawan diriku sendiri. Menyadari bahwa Mami tak lagi menjadi bagian dari kehidupanku, telah menjelmakan jiwa seolah tak bertuan. Begitu kosong... begitu hampa... 
Mi, betapa aku rindu ingin memelukmu, mengecup kedua belah pipimu. Semua kebiasaan yang kulakukan setiap hari bersamamu, dulu..Terkadang ketika sedang beraktifitas di luar rumah, aku berharap saat pulang nanti Mami akan menyambutku di depan rumah dengan senyummu yang hangat dan mendengar sapaan khas mu memanggil namaku. Atau saat menjelang tidur di malam hari, kita akan mengobrol apa saja sampai-sampai Mami ketiduran dan hingga pada akhirnya tinggallah aku sendiri menikmati dengkuranmu.   
Sungguh ini terasa sebagai sebuah mimpi. Seolah baru kemarin aku masih bisa menatap wajahmu, mengusap keningmu yang basah oleh keringat, menceritakan kisah lucu sekedar untuk membuatmu tertawa, menguatkanmu agar segera pulih dari sakit. 

Begitu besar harapan kita untuk kesembuhan Mami. Melewati 37 hari yang teramat berat di Rumah Sakit. Berada di ruangan High Care Unit tempat dimana hampir setiap hari kita menjadi saksi pergumulan pasien-pasien kritis menjemput ajalnya. Peristiwa luar biasa yang telah berubah menjadi suatu hal yang biasa karena begitu seringnya kita menghadapi kejadian itu. Sepertinya Allah sengaja memperlihatkan peristiwa-peristiwa itu, untuk mempersiapkan mental kita dalam menghadapi hal serupa. 
Namun sekuat dan sesiap apapun menerima kondisi Mami yang kala itu kian memburuk, tetap saja membuat hati terasa hancur. Statement pesimis dari dokter yang kita tolak mentah-mentah, karena keyakinan kita hanya satu, Mami insya Allah akan sembuh.


Mi, masih ingatkah setiap hari kita berdoa agar Allah memberikan keajaiban dengan menyembuhkan Mami dari sakit, persis 24 tahun yang lalu seperti keajaiban yang pernah dikaruniakan Allah kepada Mami karena penyakit yang sama.

Semua terjawab pada tanggal 2 Maret 2014. Saat malam beranjak kian larut, saat orang-orang lelap dalam tidurnya, kita menghadapi puncak perjuangan itu. Allah ternyata lebih mencintai Mami. Allah mendengar doa dan harapan kita agar Mami tidak lagi merasakan kesakitan, tidak lagi menderita. Seiring hujan lebat yang turun pada pagi dini hari itu, Allah menjemput Mami pergi kembali kehadirat-Nya. 

Hanya derai air mata yang dapat mewakili perasaan hatiku padamu Mi. Betapa aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Engkaulah malaikat terindahku yang selalu ada setiap saat aku membutuhkanmu. 

Tidurlah dalam damai Mamiku tersayang. Lantunan doa akan menjadi hadiah untukmu setiap saat. Tunggulah aku di Surga Allah yang indah. Suatu saat nanti kita akan bersama lagi dalam keabadian. Insya Allah..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Blog List

Snag a button